Alum 123

Peringatan-peringatan dibuat;

untuk yang akan keluar,

atau dikhawatirkan keluar,

lalu mengucur malapetaka.

 

Peringatan-peringatan dibuat;

untuk membualkan cita-cita,

yang tidak mereka mengerti.

 

Peringatan-peringatan dibuat;

di rumah-rumah hangat,

jauh dari sumur gelap.

 

Sumur gelap tetap biar gelap.

Ianya antitesis bualan cita-cita;

yang tidak mereka mengerti.

 

Sumur gelap tetap biar gelap.

Yang keluar sudah di sini.

Malapetaka yang;

tidak pernah mereka tanyakan,

abadi menjadi ketidaktahuan,

sudah di sini.

Dulu Aku Adalah

Aku pernah punya nama Laut.

Suatu hari ketika kulihat kapal-kapal layar melintasiku

Dengan gelak tawa

Dengan cerita dari mana-mana.

Mereka mencintaiku dan aku mencintai mereka.

Sering kusediakan  pada mereka ikan segar,

Sebagai balas perlakuan mereka yang sayang.

Sering kusediakan pandangan biru banyu,

Saat dua dari mereka berkasih-kasih di dekatku,

Berdua-dua mengagumiku.

Laut yang indah, kata mereka.

Lalu aku dewasa dan mereka berubah.

Namaku tetap Laut, tenang saja.

Tapi kami tidak saling mencintai lagi.

Mereka mengira ini bukan mutualisme,

Melainkan hubungan antara hamba dengan tuannya.

Mereka berbuat seenak gerak, dan aku yang bekerja.

Mereka makan di sini-sana, membuang sisa pun di sini-sana.

Biar aku yang menelan sampah-sampah itu,

Pikir mereka mungkin begitu.

Tapi ini adalah mutualisme, sejak dulu.

Jika mereka tidak menguntungkanku,

Tidak ada perlu juga bagiku untuk memberi apa-apa.

Biar mereka mencari substitusi dari diriku saja.

 

 

 

 

Suaranya

Pagi meramban inginku berpuisi.

Maka kubayangkan aku duduk bersama siapa-siapa.

Siapa-siapa yang tidak ada.

Dan terkatakan padanya,

Aku lelah.

Aku lelah menjadi suatu entitas yang baik.

Suatu entitas yang menaungi, menabahkan, menumbuhkan.

Tapi dilipur, dicintai saja cuma angan harap-harapan.

Aku lelah menyiapkan bahan makan, memberi tumpangan.

Tapi sebagai balas, malah dijajah habis-habisan.

Aku Bumi, entitas yang disepelekan.

 

Merubah

Awal.

Di batas pagar pengharapan, aku menulis doa yang tetap. Kutulis dengan bahagia. Kutempel bersama ribuan foto dan rekaman suara yang kusimpan bertahun lama.

 

Kemudian.

Aku melihatmu, lagi, berkali-kali. Menata, menabah, mengerti. Pada Tuhan yang kusebut dalam banyak nama, kau, untuknya, melulu meminta. Pada Tuhan yang kusebut dalam banyak nama, perempuan di matamu, untukmu, senantiasa berdoa.

 

Lalu.

Kakiku memutar. Doa sudah selesai kutulis. Ingatan padamu menepuk pundak berkali-kali, tapi aku mengerti, itu hanya wujud lain dari pengharapanku sendiri.

 

 

Akhir.

Kakiku sudah memulai langkah pertama. Diterokanya alam di hadapan, dibandingkan dengan di belakang. Ia bingung lagi kemudian.

 

 

 

 

Kharisma Malam

Di hitungan malam yang kesekian,
aku hanya sedang melihat bulan.
Angin abadi itu mengelus pipi,
bertanya dia padaku,
air matamu adalah minumku,
kepada siapa aku harus berterimakasih?
Pikiranku tidak bisa tidak ingat namamu.

 

 

Subuh,
5 Juli 2016.

Aku Tidak Aneh

Anak yang berdiri di ujung meja itu memilin-milin rambut, menanti ucapan yang akan keluar dari lisan temannya.
“Tidak.”
“Kenapa? Aku sudah besar, temanilah anak-anak yang lebih kecil”
“Aku hanya mau denganmu.”
“Tapi aku ingin berteman dengan manusia sungguhan, aku tidak punya teman..”
“Kau mempunyai aku, selalu. Kenapa menginginkan teman manusia sungguhan sedangkan kau tidak tahu kalau mereka bisa menyakitimu kapan saja?”
“Setidaknya aku akan menjadi senormal Maya, Retno, atau Ical..”
“Menurutmu kau sudah tahu apa itu ‘normal’?”
“Ibuku bilang aku aneh. ‘Berbicara sendiri itu tidak normal’, katanya.”
“Kau tahu ibumu salah, kan?”
“…”
“Kemarilah, sayang. Kemarilah.” Pelukan datang pada si anak. Pelukan yang hangat dan tidak pernah ingin ia lepaskan.
“Tapi aku ingin menjadi nor–”
“–psst! Jangan mengatakan hal aneh lagi.”

Pintu kamar sedikit terbuka. Seorang perempuan paruh baya yang ingin mengantarkan sarapan anaknya, berhenti. Dari celah pintu ia melihat, seorang bocah memeluk dirinya sendiri.

Air mata itu menetes lagi.

Apakah Itu Kau?

Jauh di dalam bilik aku menunggu. Berharap pada setiap bunyi ketuk pintu. Memasang rungu lebar-lebar untuk sesiapa yang sadar bahwa di sini di bilik gelap, aku menunggu.

Apakah itu kau?

Yang mengetuk pelan dan tidak terdengar lagi.

Apakah kau di sana, bersandar di dinding menungguku membuka pintu?

Atau ketukan yang sekali itu hanya suara dari otak, yang sudah tidak bisa dipaksa menunggu?

Aku sudah terlalu sering membuka pintu, hanya untuk melihat apakah yang mengetuk adalah dirimu.

Jadi jangan ikut menunggu bersamaku. Temu adalah utopia jika ketukanmu berlalu.

Jadi teriaklah, atau buka paksa pintu itu, kalau memang kaulah si pengetuk pelan sekali lalu tidak terdengar lagi. Aku ingin memastikan runguku tidak salah kali ini.

Rumah untuk Krisanku

IMG_20160403_162148_1459675413193_1459677280176

Sore, Krisan.

Hari ini ayah dan ibuku pergi ke Sendang, Tulungagung. Kukira mereka akan belanja keperluan rumah di sana, tapi tidak.

Mereka pulang membawa seikat bunga yang cantik sekali. Secantik rona wajah ibuku saat pulang. Aku tidak bercanda, Krisan, ibuku seperti muda lagi. Gadis remaja yang harus mati berganti menjadi ibu rumah tangga yang dewasa ini, hidup lagi. Dan akulah anak paling beruntung di keluargaku sore ini, yang mendapat kehormatan menyaksikan hidupnya gadis remaja itu. Tapi tunggu, ceritaku belum selesai karena keberuntunganku masih berlanjut.

Kau tahu kenapa?

Karena bunga yang dibawa pulang ayah-ibuku punya nama yang persis namamu. Dan lagi kau tahu? Itu adalah bunga favoritku sejak dulu. Itu adalah bunga yang namanya kusematkan pada dirimu dalam puisi dan cerita-ceritaku. Itu adalah bunga, yang dalam keadaan hati bagaimanapun, tetap menjadi kesayanganku.

 

Itu soreku, Krisan. Bagaimana soremu?

 

Trenggalek, 3 April 2016.

Dari Jendela

172632-flowers-at-home.jpg

Kau dapati hujan? Ia di jiwaku.

 

Dapatkah kau menepuk pundak bayi itu,

Biar dengan kagetnya,

Segala di atas pundak dapat rontok,

Hancur berkepingan?

 

Dapatkah kau menaiki pulau nano,

dengannya kau sebrangi danau airmata,

Lalu kau buat bendungan biar tak ada

Yang dapat terjatuh lagi?

 

Dapatkah kau buat gaun,

Untuk tubuh yang aneh sekali,

Tak pernah cocok gaun lain sama sekali?

 

-Di bawah mendung, 30 Maret 2016

 

 

*Picture from Google