Balon-Balon Mahal

Si penjual balon berdiri di pinggir jalan.

Gerobaknya diikati tali tali balon.

Balonnya warna-warni seperti yang disukai.

Ia tersenyum pada semua yang lewat, menawarkan.

Semuanya balas tersenyum, tidak berhenti.

Malam datang. Ia lapar.

Seorang keriput ketinggalan bus terakhir.

Si keriput balas tersenyum, dia mendekat.

Si penjual balon melepas tali satu balon paling bagus.

Si keriput berdiri di depan gerobak.

Si penjual menyorongkan balonnya.

Si keriput menusuk dadanya dengan pisau kue. Mati.

Advertisements

Berulang-ulang

Ah, denting lonceng yang sama saja
Yang berderainya panjang di telinga
Membawa pesan yang sama pula
Kutampik, kataku
Sudah hafal rumusan kuno itu

Pada awan kukirimkan layang-layang
Biar amanat hatiku sampai ke seberang
Pada turis-turis Makassar
Atau pejabat-rakyat Karawang

Mungkin jika terbaca, terdengar
Dentingnya akan merasa cukup
Lalu kami berpisah tuntas dalam pikiran

 

Berteriaklah, Mutiara

Berteriaklah, Mutiara
Dilangkahkannya setapak ke pulau yang asing
Melihat ke sekeliling
Berdebar dia menengok mencari tanda yang bersuara
Mengeras rahangnya mendapati yang tiada
Tergopohlah ia menjingkati raga-raga
Berusaha dia kembali ke jalan yang pertama
Memangkas, menyipit, mencari yang tidak asing
Mengeras rahangnya mendapati yang tiada

Alum 123

Peringatan-peringatan dibuat;

untuk yang akan keluar,

atau dikhawatirkan keluar,

lalu mengucur malapetaka.

 

Peringatan-peringatan dibuat;

untuk membualkan cita-cita,

yang tidak mereka mengerti.

 

Peringatan-peringatan dibuat;

di rumah-rumah hangat,

jauh dari sumur gelap.

 

Sumur gelap tetap biar gelap.

Ianya antitesis bualan cita-cita;

yang tidak mereka mengerti.

 

Sumur gelap tetap biar gelap.

Yang keluar sudah di sini.

Malapetaka yang;

tidak pernah mereka tanyakan,

abadi menjadi ketidaktahuan,

sudah di sini.

Suaranya

Pagi meramban inginku berpuisi.

Maka kubayangkan aku duduk bersama siapa-siapa.

Siapa-siapa yang tidak ada.

Dan terkatakan padanya,

Aku lelah.

Aku lelah menjadi suatu entitas yang baik.

Suatu entitas yang menaungi, menabahkan, menumbuhkan.

Tapi dilipur, dicintai saja cuma angan harap-harapan.

Aku lelah menyiapkan bahan makan, memberi tumpangan.

Tapi sebagai balas, malah dijajah habis-habisan.

Aku Bumi, entitas yang disepelekan.

 

Merubah

Awal.

Di batas pagar pengharapan, aku menulis doa yang tetap. Kutulis dengan bahagia. Kutempel bersama ribuan foto dan rekaman suara yang kusimpan bertahun lama.

 

Kemudian.

Aku melihatmu, lagi, berkali-kali. Menata, menabah, mengerti. Pada Tuhan yang kusebut dalam banyak nama, kau, untuknya, melulu meminta. Pada Tuhan yang kusebut dalam banyak nama, perempuan di matamu, untukmu, senantiasa berdoa.

 

Lalu.

Kakiku memutar. Doa sudah selesai kutulis. Ingatan padamu menepuk pundak berkali-kali, tapi aku mengerti, itu hanya wujud lain dari pengharapanku sendiri.

 

 

Akhir.

Kakiku sudah memulai langkah pertama. Diterokanya alam di hadapan, dibandingkan dengan di belakang. Ia bingung lagi kemudian.

 

 

 

 

Kharisma Malam

Di hitungan malam yang kesekian,
aku hanya sedang melihat bulan.
Angin abadi itu mengelus pipi,
bertanya dia padaku,
air matamu adalah minumku,
kepada siapa aku harus berterimakasih?
Pikiranku tidak bisa tidak ingat namamu.

 

 

Subuh,
5 Juli 2016.

Aku Tidak Aneh

Anak yang berdiri di ujung meja itu memilin-milin rambut, menanti ucapan yang akan keluar dari lisan temannya.
“Tidak.”
“Kenapa? Aku sudah besar, temanilah anak-anak yang lebih kecil”
“Aku hanya mau denganmu.”
“Tapi aku ingin berteman dengan manusia sungguhan, aku tidak punya teman..”
“Kau mempunyai aku, selalu. Kenapa menginginkan teman manusia sungguhan sedangkan kau tidak tahu kalau mereka bisa menyakitimu kapan saja?”
“Setidaknya aku akan menjadi senormal Maya, Retno, atau Ical..”
“Menurutmu kau sudah tahu apa itu ‘normal’?”
“Ibuku bilang aku aneh. ‘Berbicara sendiri itu tidak normal’, katanya.”
“Kau tahu ibumu salah, kan?”
“…”
“Kemarilah, sayang. Kemarilah.” Pelukan datang pada si anak. Pelukan yang hangat dan tidak pernah ingin ia lepaskan.
“Tapi aku ingin menjadi nor–”
“–psst! Jangan mengatakan hal aneh lagi.”

Pintu kamar sedikit terbuka. Seorang perempuan paruh baya yang ingin mengantarkan sarapan anaknya, berhenti. Dari celah pintu ia melihat, seorang bocah memeluk dirinya sendiri.

Air mata itu menetes lagi.